Ukhuwah II : Tafahum
Alhamdulillaah…
Seneng banget bisa belajar tentang yang satu ini.
Bener kata murabbiyahku. Ukhuwah adalah ketika kita tidak lagi jaim di hadapan sahabat/saudara kita. Ini adalah penjelasan sederhana dari makna ukhuwah yang terendah yaitu berlapang dada. Berlapang dada dengan kekurangan yang dimiliki oleh sahabat/saudara. Kekurangan itu tak mungkin terungkap jika kita jaim di hadapan saudara kita.
Akhirnya aku menemukan sahabat-sahabat yang aku tidak jaim pada mereka dan meraka tidak jaim padaku =D
Mereka datang di waktu yang tepat. Saat aku siap dengan kekacauan-kekacauan pada diri mereka dan mereka siap dengan kekacauan-kekacauan dalam diriku.Hahaha…Tapi gak cuman itu aja, kami sama-sama siap mengelola potensi masing-masing bersama-sama.
Awalnya emang rada kaget pas tau ‘belangnya’ sahabat kita. Tapi akhirnya aku paham bahwa itulah peran kita. Manfaat kita bagi sahabat kita adalah sebagai pengingat apabila dia salah dan sebagai orang yang setia memperbaiki kekurangan dalam dirinya. Kuncinya jangan jaim. Kalo jaim acara kritik mengkritik akan kacau balau dan tak ada artinya. Berani mengkritik, bersedia dikritik juga.
Ya… aku teringat sama daurah pra kampus. Di atas bukit perkebunan teh di kawasan jayagiri … kami mendapat sebuah pelajaran berharga tentang bekal dawah yang harus kami miliki: iman, ukhuwah, amal jamai. Kini aku semakin mengerti tiga kata ini. Iman yang menjadi sumber kekuatan terbesar. Ukhuwah yang mengubah panjang dan beratnya jalan dawah menjadi indah. Amal jamai yang membuat dawah jadi profesional.
Aku pun ingat… sudah dua kali aku menjadi trainer di daurah pra kampus untuk adik-adik angkatanku. Di tempat yang sama aku menyampaikan materi tersebut. Aku pernah mengatakan pada adik-adikku : "Jangan biarkan saudara kita terlepas dari jalan da’wah ini. Relakah kita kehilangan kesempatan untuk berkumpul di surga kelak karena saudara kita insilakh? " saat itu tak ada satu pun yang mampu menahan lelehan airmatanya… termasuk aku sendiri… mengingat saudara-saudaraku yang sudah (dan hampir) berguguran.
Beberapa waktu lalu aku pun hampir saja ‘terjatuh’… tapi dengan ukhuwah aku bisa tetap bertahan.
Kini aku sadar betul… sahabat-sahabatku adalah anugerah yang tak boleh kusia-siakan.






