Ukhuwah II : Tafahum

April 30, 2007

Alhamdulillaah…

Seneng banget bisa belajar tentang yang satu ini.

Bener kata murabbiyahku. Ukhuwah adalah ketika kita tidak lagi jaim di hadapan sahabat/saudara kita. Ini adalah penjelasan sederhana dari makna ukhuwah yang terendah yaitu berlapang dada. Berlapang dada dengan kekurangan yang dimiliki oleh sahabat/saudara. Kekurangan itu tak mungkin terungkap jika kita jaim di hadapan saudara kita.

Akhirnya aku menemukan sahabat-sahabat yang aku tidak jaim pada mereka dan meraka tidak jaim padaku =D

Mereka datang di waktu yang tepat. Saat aku siap dengan kekacauan-kekacauan pada diri mereka dan mereka siap dengan kekacauan-kekacauan dalam diriku.Hahaha…Tapi gak cuman itu aja, kami sama-sama siap mengelola potensi masing-masing bersama-sama.

Awalnya emang rada kaget pas tau ‘belangnya’ sahabat kita. Tapi akhirnya aku paham bahwa itulah peran kita. Manfaat kita bagi sahabat kita adalah sebagai pengingat apabila dia salah dan sebagai orang yang setia memperbaiki kekurangan dalam dirinya. Kuncinya jangan jaim. Kalo jaim acara kritik mengkritik akan kacau balau dan tak ada artinya. Berani mengkritik, bersedia dikritik juga.

Ya… aku teringat sama daurah pra kampus. Di atas bukit perkebunan teh di kawasan jayagiri … kami mendapat sebuah pelajaran berharga tentang bekal dawah yang harus kami miliki: iman, ukhuwah, amal jamai. Kini aku semakin mengerti tiga kata ini. Iman yang menjadi sumber kekuatan terbesar. Ukhuwah yang mengubah panjang dan beratnya jalan dawah menjadi indah. Amal jamai yang membuat dawah jadi profesional.

Aku pun ingat… sudah dua kali aku menjadi trainer di daurah pra kampus untuk adik-adik angkatanku. Di tempat yang sama aku menyampaikan materi tersebut. Aku pernah mengatakan pada adik-adikku : "Jangan biarkan saudara kita terlepas dari jalan da’wah ini. Relakah kita kehilangan kesempatan untuk berkumpul di surga kelak karena saudara kita insilakh? " saat itu tak ada satu pun yang mampu menahan lelehan airmatanya… termasuk aku sendiri… mengingat saudara-saudaraku yang sudah (dan hampir) berguguran.

Beberapa waktu lalu aku pun hampir saja ‘terjatuh’… tapi dengan ukhuwah aku bisa tetap bertahan.

Kini aku sadar betul… sahabat-sahabatku adalah anugerah yang tak boleh kusia-siakan.

Aksi

Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan

Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan

Sebuah catatan kebanggaan

Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta….

————————————-

Dulu sering banget nyanyiin lagu ini… tahun 2004…

Zaman-zamannya rajin aksi. Ampir tiap selasa dan jumat tuh ngumpul di depan gerbang ganesha. Yang suka orasi Iqbal Palawa Fiktim 02 (apa kabar ya bapak ini?)

Emang aneh bagi sebagian orang… ngapain sih ikut aksi segala? emang apa untungnya? dibayar brapa seh?

Tapi buatku, aksi menjadi saat-saat yang menyenangkan… karena ku tahu ada perubahan yang terjadi setelah para mahasiswa beraksi. Kezaliman akan tetap bergulir jika tak ada pihak yang bersuara lantang menentang. Karena ku yakin, aksi ini adalah amar ma’ruf nahyi munkar. Jika kita terluka dalam keadaan niat yang lurus insya ALLAH setiap tetes darah dan keringat akan menjadi saksi di akhirat nanti. Buatku aksi mengasah ketajaman sosial akan penderitaan rakyat. Entahlah mungkin alasan ini tidak bisa diterima oleh semua orang.

Aksi yang kuikuti selalu santun… alhamdulillah gak pernah chaos. Dimulai dan diakhiri dengan doa. Laki-laki dan perempuan dipisah. Kadang ada happening art yang mengharukan, kadang lucu…

Sekarang udah bukan anggota KM ITB lagi. Gak boleh ikut aksi mahasiswa lagi…

Keadaan sekarang sudah berubah. Kampus tidak lagi bergigi. Mahasiswa banyak yang hedon. Udah terlalu kaya ampe lupa orang-orang di sekitarnya yang menderita.

Sekarang memang peran politik (guardian of value) kampus sudah dikurangi. Peran iron stock (cadangan masa depan) nya yang lebih dikedepankan. Mahasiswa didorong untuk memperkaya diri dengan kompetensi keprofesiannya. Tapi seharusnya ruh peran mahasiswa sebagai: agent of change, dan guardian of value (disamping sebagai iron stock) juga tertanam dalam diri mahasiswa.

Duh… ngomong apa sih ini? sok tau banget ya :P

Ya sudah lah… lagi kangen sama zaman-zaman semangat dahulu kala.

uneg-uneg gak jelas

April 20, 2007

Sedih pisan…

Denger kabar yang hadir di daurah binaan cuman sedikitan emoticon

Apakah ini karena persiapan ruhiyah panitia sangat kurang?

Nyesel banget deh kalo bener-bener ini penyebabnya?

Cost untuk daurah cukup besar. Harapannya cost ini bisa terbayar dengan kualitas binaan yang meningkat.

Sekarang… yang ada adalah rasa ingin menangis dan penyesalan yang mendalam.

Bagaimana mungkin kita bisa meningkatkan kualitas binaan, kalo kitanya sendiri gak ningkat? 

emoticon 

Matahari udah mau tenggelam…  

Sedih… rasanya gak berani untuk melihat kondisi daurah dengan peserta yang sedikit emoticon gak tega sama temen-temen  yang udah berkorban mendesain acara.

Bahagia soalnya bisa melampiaskan kesedihan ini nanti malam sepuas-puasnya emoticon 

 

Bercermin dari Ibu Orang Lain

April 15, 2007

Pagi ini Mama Ida tak sanggup membendung air matanya. Ia begitu kecewa pada putranya. Dia begitu berharap putranya bisa sukses di sekolah. Dia masih ingat, waktu SD putra bungsunya selalu jadi juara kelas. Putranya ini cerdas, IQ nya 130. Hanya saja… saat ini putranya sedang kurang bergairah belajar. Rasa tanggung jawabnya masih belum tumbuh. Begitu menurut pengakuan sang ibu. Mama Ida begitu sayang pada Ida. Segala keperluannya dipenuhi. Ida harus ada di sekolah favorit. Dengan segala daya upaya, Ida dipindahkan ke sekolah favorit. Mama Ida ingin Ida sukses. Tapi… harapannya itu kandas ketika melihat raport tengah semester putranya ini hancur lebur. Nilai pelajaran IPA nya tidak memenuhi standar KBK, padahal Ida ingin masuk kelas 2IPA. Mama Ida ingin berteriak, melampiaskan kesedihannya yang mendalam. Betapa tidak.. dalam setiap doanya, selalu ada kebaikan Rizki yang dia harap. Pakaian Ida mamanya yang mencuci, makan kadang masih disuapi, sampai mengunting kuku pun sama Mama. Tadi malam Ida kabur ke rumah tantenya setelah berseteru dengan Mamanya soal buku pelajaran. Setelah tahu Ida tidak punya buku Fisika dan Kimia, Mama Ida menegur Ida dengan keras. Ida merasa disalahkan. Mama Ida merasa kecewa karena Ida selalu diberikan uang saku yang cukup dan selalu ada uang cadangan di dompetnya untuk membeli buku. Kisah ini mengingatkanku akan mamaku sendiri… Aku beruntung aku dan mamaku seperti sahabat. Tertawa bersama, saling berbagi kisah, berbagi tausiyah, saling mengimami dalam sholat, saling mengajari… aku cinta mama… Mama memberiku kepercayaan untuk mengelola keuangan sendiri, memanage aktivitas sendiri, mencoba hal-hal baru, kadang beliau membiarkanku berbuat nakal agar aku belajar dari kesalahanku. Di balik itu tentunya mamaku punya harapan yang sama dengan Mama Ida… melihatku sukses dan berbakti pada Mama Papa… Meskipun beliau tidak pernah mengungkapkan secara melankolis. Mama Papa selalu bilang setiap keputusan yang kita ambil menjadi tanggung jawab kita sendiri. Jika kita sukses orang tua hanya turut berbangga… Yap… Berbaktilah pada orang tua sebelum terlambat. Selalu ada kita dalam doa-doa mereka dalam sujud dan deraian air mata mereka… Ridho Allah ada di ridho orang tua… Pastikan kita dapat berjumpa lagi di JannahNya kelak, memadu cinta di hijaunya Surga, menyanyikan senandung para bidadari, menghempas seluruh benci, memandang wajah Ilahi Robbi …

Sebuah Kerinduan

Membeli mie dog-dog di samping indomaret mengingatkanku pada suatu masa yang begitu indah.

Tukang mie dog-dog itu mendirikan tenda warungnya di jalan yang selalu kulalui untuk menuju ke masjid.

Paving blok merah itu membangkitkan memoriku pada suasana subuh yang sunyi senyap. Berjalan bertiga bersama mama papa berlomba dengan azan, mengejar tahiyatul masjid dan qabla subuh.

Ada kebahagiaan yag membuncah saat menginjakkan kaki di karpet masjid yang hangat, mendengar iqamat yang dikumandangkan, lantunan quran dari lisan imam…

Semoga besok aku bisa mengulang kenangan indah ini. Melawan hawa dingin, dan rasa malas yang bergulung.

Teringat akan tausiyah papa : salah satu ciri orang munafik adalah lalai dalam mendirikan shalat subuh dan isya…. 

Ngelamun di Masjid Pindad

April 12, 2007

Jam 07.50

kok sepi ya…. kajiannya jam 08.00 kan? bukannya ustadznya strict banget soal waktu?

08.00

di samping masjid ada sekumpulan ikhwan yang lagi latihan Thifan. Duh.. jadi salting uy! soalnya di sekitar masjid itu bener-bener ikhwan semua, termasuk anak-anak kecil yang lagi maen petak umpet.

08.15

sms ke T Ratna : teh kajian ust habib masih ada g? di msjid pindad sebelah mana?

 T Ratna : masih ada kok. biasanya di aula.

Setelah baca sms dari T Ratna aku dengan sabar menanti pintu aula di buka. Aku duduk di tangga sebelah utara masjid (ngumpet biar gak keliatan sama ikhwan2 yang latihan thifan). Bolak balik ngintip.  Gak di buka-buka. 

Sabar… sabar…

Anak-anak kecil yang lagi main petak umpet terlihat begitu menikmati dunianya…

Jadi teringat masa kecilku…. (ngutip lagunya ada band dan gita gutawa)

Dulu suka main petak umpet juga dan suka dikocok (jadi ucingnya terus hehe :D ) soalnya yang paling kecil diantara yang lain.

Wah zaman skarang masih ada ternyata yang main petak umpet. 

Kulihat memang lingkungan masjid Pindad memang masih  asri. Lapangannya luas. Ada pohon beringin yang berdiri tegak dan menaungi halaman. Masih terdengar suara turaes yang bersembunyi entah di mana. Seperti berada di tengah hutan….

Mungkin ini yang membuat anak-anak senang bermain di sana. Selesai mengaji mereka tidak langsung  pulang. Mereka menikmati masa anak-anaknya dengan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Normal… dan lebih baik dari pada bersosialisasi dengan play station atau game online bahkan situs porno di internet….

08.30 

Bener-bener gak konkret nih….

Gak ada tuh kajiannya…

Semoga ALLAH menerima perjuanganku menyempatkan diri untuk datang kajian (yang akhirnya gak ada) 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design