Dalam dunia pendidikan Indonesia, bertanya hampir menjadi aktivitas yang tabu. Seperti pengalaman kita semua, apabila dosen mengajar di kelas dan berkata: ada pertanyaan? yang terjadi adalah kesenyapan… itulah yang seringkali terjadi.
Pelajar dan mahasiswa Indonesia memang tidak dibiasakan untuk bertanya. Mereka dibiasakan untuk menjawab pertanyaan.
Padahal bertanya adalah tanda bahwa seseorang berfikir.
Saat seorang mahasiswa atau pelajar tidak bertanya ada dua kemungkinan: sangat mengerti atau tidak mengerti sama sekali.
Ada sebuah kisah yang unik soal pertanyaan. Seorang mahasiswa grad school di Auburn, Alabama, US hijrah ke University of Florida dan diberi waktu setahun untuk membaca hasil-hasil penelitian yang sudah sudah. Setahun hanya untuk membaca. Demi tahu apa yang masih tersisa untuk ditanyakan.
Dalam mata kuliah Scientific method and measuring technique kami disuruh untuk mengalisis literatur, membuat hipotesis dan mendesain experimen untuk menjawab hipotesis. Diakhir quarter, ternyata >50% siswa gagal menuntaskan mata kuliah ini. Batu penghalangnya adalah membuat hipotesis!!!
Ternyata membuat pertanyaan itu memang tidak mudah. Apalagi membuat pertanyaan yang bermutu. Tidak hanya jawaban yang harus bermutu, tapi pertanyaan pun harus bermutu.
Tapi ini tidak harus menjadi penghambat seorang mahasiswa untuk bertanya. orang-orang eropa dan amerika dalam diskusi akademiknya pun tidak selalu mengemukakan pertanyaan yang bermutu. dr Emma Kaisi pernah berkisah mengenai pengalamannya di LA. Saat itu beliau menemani anaknya berobat di RS. Tanpa sengaja beliau mendengar diskusi antara residen dan dr spesialis. Ternyata, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada dr spesialis pembimbingnya tidak jauh berbeda dengan mahasiswa kedokteran tingkat 2 di Indonesia.
Bagi Thomas Schlathölter- dosen RUG, memastikan bahwa mahasiswa tetap bekerja dengan tugas-tugas belajarnya merupakan hal yang penting (walaupun hasilnya kelak tidak istimewa). Salah satu parameter bekerja atau tidaknya mahasiswa adalah dengan mengemukakan pertanyaan. Dia tidak mengharamkan pertanyaan secupu apapun.
Begitu juga dengan Ibu Ami Hamidah Salman -Dosen Teknik Elektro ITB, beliau pernah menuturkan bahwa beliau justru akan marah jika ada mahasiswa yang menertawakan mahasiswa lain yang bertanya (dengan pertanyaan yang cupu). Bagi beliau feedback dari mahasiswa sangatlah penting. Dengan feedback dari mahasiswa, beliau bisa tahu sejauh mana kualitas dia dalam mengajar dan mengasahnya kembali.
Dalam wawancara kerja, salah satu aspek yang dinilai adalah curiousity.
Biasanya di akhir wawancara, interviewer akan bertanya: adakah yang ingin anda tanyakan mengenai perusahaan kami? Jika kita memiliki segudang pertanyaan, kita akan mendapat nilai plus.
Sejarah pun telah memberikan pelajaran tentang bertanya. Pengenalan Ibrahim akan tuhannya dimulai dari sebuah pertanyaan. Saat dia melihat bulan dia bertanya: apakah ini Tuhanku? Ketika rembulan berganti mentari, dia berpikir tak mungkin tuhan tenggelam dan dia bertanya untuk kedua kalinya: mungkinkah mentari ini Tuhanku? dari pertanyaan-pertanyaan inilah akhirnya ibrahim menemukan Tuhannya dan menjadi bapak para Nabi.
Ketidakmampuan untuk bertanya akan mengiring bangsa ini pada kebodohan yang berkepanjangan. Betapa merananya negara-negara dunia ketiga yang tak mampu melepaskan dirinya dari pengendalian bangsa barat. Mau-maunya menggulirkan program-program yang hanya menguntungkan industri dan ekonomi bangsa barat…begitulah akibat tidak ada rakyat yang berani bertanya.
Bertanyalah…
Jika tangan kananmu begitu berat untuk diacungkan, bantulah ia dengan tangan kirimu. Sesungguhnya pertanyaan yang paling bodoh adalah pertanyaan yang tak pernah dikemukakan.
(tausiyah untuk diri sendiri)