AHSANUL KALAM

June 28, 2007

Tips Persiapan Outbound untuk Akhawat

Filed under: Annisa

Setelah sekian lama gak OBT (outbound training) akhirnya hari sabtu yang lalu OBT lagi. Kali ini bersama teman-teman dari FE Unpad. Tempatnya di Alam Sejuk Lembang. Perannya tentu saja jadi trainer (kerennya…) Tapi yang pasti bukan di bagian safety master =D Akhawat yang pernah aktif di Santika (Barisan Putri Keadilan -sering di pelesetin jadi bariSAN canTIk seKAli =D) aja gak jadi safety master.

Tidak semua outbound butuh safety master. Kalau outboundnya berisi aktifitas yang cukup berbahaya safety master dibutuhkan. Contoh aktifitas berbahaya misalnya : repelling, flying fox, water boom, terjun bebas ke air, dan lain-lain. Aktifitas berbahaya ini yang biasanya jadi faktor penarik seseorang untuk bersemangat mengikuti outbound training.

Outbound Training kali ini mengingatkanku pada salah materi Latihan Dasar 1 Kepanduan tentang prosedur tambahan khusus untuk akhawat dalam mengikuti outbound training. Prosedur ini sangat berkaitan erat dengan masalah safety.
Karena akhawat memang istimewa, prosedurnya pun sedikit berbeda dengan ikhwan (terutama masalah pakaian).  Berikut ini prosedur tambahan untuk akhawat:

1.      Pakai pakaian warna gelap biar gak gampang kotor

2.      Pakai pakaian berlapis
§         Celana lapangan atau celana training dilapis rok
§         T shirt lengan panjang dilapis kemeja berkancing
§         Kerudung pendek (masukkan ke kemeja) dilapis kerudung panjan

3.      Pakai manset
4.      Pakai kaos kaki dan Bawa kaos kaki ganti
5.      Pakai sandal gunung atau sepatu kets (jangan pakai pantopel =D apalagi high heels)
6.      Bawa alat sholat (wajib pisan)
7.      Pakai sun block

Ribet?? Jelas ribet banget… buat yang gak terbiasa pakai rok, manset, kaos kaki, kerudung panjang, tentu akan merasa tidak nyaman. Untuk yang terbiasa, prosedur ini sangat membantu.

Pakaian berlapis akan melindungi kita saat kita melakukan aktivitas yang berbahaya. Biasanya kita memakai tali tubuh yang dipasang di pinggang atau di dada. Jasa tali tubuh melindungi kita dari kecelakaan harus dibayar dengan usaha yang lebih menutup aurat. Dengan memakai rok, tali tubuh yang dipasang di pinggang tidak terlihat. Begitu juga jika tali tubuh di pasang di dada. Simpul tali tubuh (yang biasa disambung ke karabiner) dikeluarkan dari lubang diantara dua kancing pada kemeja. Terkadang kerudung menyangkut bahkan melilit ke dalam figure of eight. Untuk mengurangi risiko ini, kerudung harus dimasukkan ke dalam kemeja. Gunakan kemeja yang lapang. Angin yang nakal seringkali membuat kerudung berkibar, kerudung pendek jadi pelindung kalau-kalau kerudung panjang tersingkap. Aman bukan?

Manset memberikan keleluasaan dalam bergerak. Tangan bisa bebas menggapai ke segala arah tanpa harus khawatir aurat terbuka.

Memakai kaos kaki tentu sudah menjadi hal yang tidak asing. Bukankah yang tidak aurat dari muslimah hanyalah wajah dan telapak tangan? Kalau tidak benar-benar darurat, memakai kaos kaki adalah kewajiban. Kaos kaki ganti sangat diperlukan karena tidak ada jaminan kaos kaki kita akan bersih dan kering sampai dengan outbound berakhir. Tentu tidak nyaman mengenakan kaos kaki basah, padahal tidak ada lagi sesi basah-basahan (nyebur atau ngelewatin kali, perang air, etc). Apalagi jika sudah masuk waktu shalat, kaos kaki yang kotor sebaiknya ditinggalkan.

Saking feminimnya, terkadang akhawat gak punya sepatu kets. Kalau jogging pun barefoot (cuman pake kaos kaki). Untuk urusan outbound tidak disarankan pakai pantopel kecuali rela kepeleset dan sepatunya almarhum =D

Alat sholat dan sun block sepertinya sudah cukup jelas.

Sekali lagi… ini memang super duper ribet… Tapi buatku,outbound training adalah bagian dari ibadah. Kita wajib mentarbiyah jasad kita. Bukankah mu’min yang kuat lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah? Agar ibadah kita sempurna, niat dan caranya haruslah benar. Oleh karena itu bagiku prosedur ini sangat bermanfaat… Semoga bermanfaat juga untuk temen-teman semua :)

Ummu Sulaim

Filed under: Annisa

Ada 2 nama yang akhir-akhir ini sering disebut-sebut. Mereka adalah Ummu Sulaim dan Bunda Zainab Al Ghazali. Siapakah sebenarnya mereka?

Kali ini kita cerita ttg Ummu Sulaim dulu. Kisah ttg Bunda Zainab lain kali aja ya… kalo mau baca di buku Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin.(Sangat Heroik…)

Rasulullah saw. bersabda: "Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan. Aku bertanya: ‘Siapa itu?’ Mereka (para malaikat) menjawab: ‘Dia adalah al-Ghumaisha (wanita yang mudah menangis) putri Milhan."’ (HR Muslim)

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Diperlihatkan kepadaku surga, lalu aku melihat istrinya Abu Thalhah." (HR Muslim)

Yang paling istimewa dari Ummu Sulaim ini adalah pernikahannya dengan Abu Thalhah.

Dalam perkawinannya dengan Abu Thalhah terdapat kisah yang menunjukkan kekuatan iman dan harga dirinya. Dari Tsabit al-Banani, dari Anas, dia berkata: "Abu Thalhah meminang/melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata: ‘Demi Allah, orang seperti kamu ini, wahai Abu Thalhah, tidak mungkin ditolak. Cuma sayangnya kamu masih kafir, sementara aku adalah wanita muslimah. Tidak halal bagiku kawin denganmu. Tetapi jika kamu mau masuk Islam, maka itulah maskawinku, dan aku tidak akan meminta yang lain lagi kepadamu (padahal Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling kaya karena kebun kurmanya di Madinah).Akhirnya dia masuk Islam dan itulah yang dia jadikan mahar untuk mengawini Ummu Sulaim." Tsabit al-Banani berkata: "Aku belum pernah melihat seorang wanita sama sekali yang lebih mulia maskawinnya dibandingkan dengan maskawin Ummu Sulaim." (HR an-Nasa’i)

Simak, kira-kira ketika Abu Thalhah masuk Islam, bukankah Ummu Sulaim pasti “lebih faham” tentang dien? mungkin dalam konteks sekarang Abu Thalhah saat adalah seorang Mu’allaf. Dibimbingnya suaminya dengan keteguhan yang ia miliki. Dengan kehendak Allah, jadilah Abu Thalhah satu dari 10 orang yang dijamin masuk sorga, menjadi saudagar yang dermawan.

 Anas r.a. berkata: "Ketika terjadi Perang Uhud, banyak pasukan Islam yang lari meninggalkan Nabi saw. Tetapi, Abu Thalhah tetap bersama Nabi saw. dan dia melindungi nabi saw. dengan sebuah tameng miliknya. Abu Thalhah terkenal sebagai seseorang yang mahir dalam urusan memanah dan juga sangat pemberani. Pada waktu itu Abu Thalhah membawa dua atau tiga busur sekaligus. Namun sayang dia kehabisan anak panah. Beruntung pada saat itu ada yang memberinya anak-anak panah. Sementara itu Nabi saw. menengok ke luar untuk melihat keadaan pasukannya yang porak poranda. Lalu Abu Thalhah berkata: ‘Wahai Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, jangan engkau lakukan itu. Saya tidak ingin engkau menjadi sasaran anak panah musuh, biar leher saya saja yang terkena, asal jangan leher engkau …’ Pedang sempat jatuh dari kedua tangan Abu Thalhah dua atau tiga kali." (HR Bukhari dan Muslim)

 Anas bin Malik berkata: "Abu Thalhah adalah seorang sahabat Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah berupa pohon kurma. Hartanya yang paling dia senangi adalah taman Bairuha’ yang letaknya menghadap ke masjid. Rasulullah saw. biasa memasuki taman itu dan meminum airnya yang bagus." Anas berkata: bahwa ketika turun firman Allah yang berbunyi: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai," Abu Thalhah berusaha menemui Rasulullah saw. dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.’ Harta yang paling aku cintai adalah taman Bairuha’ dan aku ingin menyedekahkannya untuk Allah dengan harapan aku bisa memperoleh kebajikan-Nya dan menjadi simpanan di sisi Allah. Lakukanlah sesuatu, wahai Rasulullah, terhadap taman itu sesuai dengan yang diridhai Allah." Rasulullah saw. berkata: "Wah, harta itu banyak mengalirkan pahala kepada pemiliknya atau banyak menghasilkan untung." (Abdullah ragu): "Dan aku telah mendengar dan paham apa yang baru kamu katakan. Menurutku, sebaiknya kamu berikan saja kepada anggota keluargamu yang terdekat." Abu Thalhah berkata: "Akan aku laksanakan, wahai Rasulullah." Lalu Abu Thalhah membagi-bagikan harta yang paling dicintainya itu kepada kaum kerabatnya yang terdekat, dan juga kepada keponakan-keponakannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Bagaimana hal itu dapat dilakukan kecuali oleh istri-istri yang teguh, cerdas,tidak materialis, dan penuh kesabaran? jadi, bukankah baik untuk belajar bahwa setiap perempuan muslim harus siap menjadi ummu sulaim-ummu sulaim yang menjadi pendukung kebaikan dunia-akhirat keluarganya? Ah, Ummu sulaim….

Seandainya aku bisa seperti Ummu Sulaim…

Ya Allah, pertemukan kami di surga Mu kelak…

Diambil dari :

- Kebebasan Wanita Jilid 1 karangan Abdul Halim Abu Syuqqah

- http://baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/belajar-dari-ummu-sulaim/

untuk sodari-sodariku yang baru saja menggenapkan setengah dien… ;)

May 30, 2007

Cara Lain Masak Sop Ayam

Filed under: Annisa

Sayur Sop Ayam

Bahan :
  • 5 buah sayap ayam, potong jadi 10 bagian (bagian sayap dan "paha"). Bisa juga diganti sama daging ayam tanpa tulang atau ceker ayam.
  • 10 buah bakso ikan, potong-potong
  • 2 bh wortel, potong-potong
  • 1 bh kentang
  • 2 lembar kol hijau, potong-potong
  • 2 batang daun bawang, potong-potong
  • 1 batang seledri, ambil bagian daun dan sedikit bagian batang, potong-potong.
  • 4 bh bawang putih, geprak lalu cincang kasar
  • 1/2 bh bawang bombay, potong-potong melintang
  • 2 liter air
  • 1 sdt garam
  • 1 sdt lada bubuk
  • 1/2 sdt kaldu ayam bubuk
  • 2 sdm mentega

Cara membuat :

  • Panaskan mentega didalam panci, tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum.
  • Masukkan ayam, aduk rata lalu tambahkan air.
  • Masak sampai air mendidih dan keluar kaldu.
  • Masukkan wortel, kentang dan bakso ikan, masak kira-kira 5 menit lalu masukkan kol, daun bawang dan seledri.
  • Masukkan garam, lada dan kaldu ayam bubuk, aduk rata. Cicipi. Angkat dan sajikan.
    sumber : netta

May 22, 2007

Mbak Siti

Filed under: Annisa

(setelah didesak-desak buat ngapdet blog…)

Pekan lalu daku ngobrol-ngobrol sama ibundaku (baca:murabbiyah) tentang perencanaan masa depan. Bahasannya menjurus pada karir. Bagaimana seharusnya seorang akhawat itu membangun karirnya? Bagaimana seorang akhawat menyumbangkan kompetensinya untuk umat?

Awalnya ibunda rada-rada bingung :P soalnya beliau tuh ibu RT tulen :D  

Beberapa saat kemudian beliau bercerita tentang seseorang. Sebenarnya saya kenal… tapi cerita beliau membuatku makin kagum saja ummahat yang satu ini…

Siti Mumtamah… nama yang cukup populer di kalangan akhawat ITB, apalagi yang pernah bersentuhan dengan aktivitas ormas muslimah SALIMAH jawa barat.

Beliau adalah lulusan Teknik Elektro ITS, bidang keahliannya teknik komputer. Setelah lulus beliau bekerja di IPTN. Beliau menikah dengan seorang dokter. Namanya dr Toni. dr Toni mengabdikan diri sepenuhnya untuk mengobati pasien-pasiennya. Saking sibuknya, beliau mengalami gagal ginjal. Akibatnya beliau harus cuci darah. Pada saat-saat genting ini Mbak Siti senantiasa mendampingi suaminya dengan setia. Dengan penuh kesadaran, beliau rela mengundurkan diri dari IPTN. Uang tabungannya pun habis untuk membiayai pengobatan suaminya. Ikhtiar telah dilakukan… akan tetapi Allah punya rencana lain. dr Toni akhirnya wafat…

Aku bisa merasakan gimana sedihnya beliau waktu itu… emoticon  kehilangan seorang suami… dan beliau punya suatu mimpi yang belum tercapai bersama suaminya… memiliki keturunan.

Hebatnya.. beliau sangat sabar dan tawakal. Dengan kesendiriannya beliau menyibukkan diri di Ormas Salimah. Beliau juga sempat bekerja di GCC (German Culture Center) yang saat itu dikelola oleh Mbak Diah Nurwitasari. Karirnya makin berkibar saat beliau bekerja di Rabbani yang berpusat di Jl Hasanudin. Posisi beliau sebagai manajer marketing. Sebuah pekerjaan yang tak pernah beliau geluti. Saat para pemilik modal menuntut Rabbani menaikkan omzet hingga 2 kali lipat, Mbak Siti mahal berani memasang target kenaikan omzet hingga 4 kali lipat. Subhanallah… Dengan izin Allah, Rabbani ternyata tidak hanya menaikkan omzet hingga 4 kali lipat, tapi 10 kali lipat!!!! Allahu Akbar!!!

Pada puncak karirnya ini beliau menemukan labuhan hatinya… Alhamdulillah Allah mempertemukan beliau dengan seorang ikhwan shalih yang siap menjadi pendamping hidupnya. Beliau adalah Oded Muhammad Danial yang lebih akrab dipanggil Mang Oded. Saat itu lagi-lagi beliau harus mengambil keputusan yang berat, yaitu meninggalkan puncak karirnya di Rabbani. Beliau memilih untuk berkonsentrasi mendidik putri-putri barunya ;) Pak Amri Gunawan (Direktur Rabbani) pun melepas beliau dengan berat hati.

Lepas dari karir beliau begitu cepat mengukir prestasi yang baru. Beliau mengukir prestasi dengan menghidupkan nuansa ibadah yang sangat kental di rumahnya. Kehadiran beliau di rumah seperti sebuah ruh baru yang mengalir. Tiap pagi dan sore membaca dzikir al matsurat bersama anak-anak. Malam qiyamul lail bersama keluarga. Beliau merasakan pengalaman spiritual yang dahsyat bersama keluarga barunya. Pernah suatu malam, mereka semua menangis dalam Qiyamul Lail mereka. Subhanallah… jadi iri…

Sekarang beliau sedang hamil 7 bulan ;) dan ternyata beliau tetap menjadi wanita karir. Beliau mengelola bisnis es krim miliki suaminya. Lagi-lagi beliau mengulang kesuksesan menaikkan omzet.  Kali ini hingga 4 kali lipat.

Itulah Mbak Siti… seorang muslimah dengan tingkat penyesuaian diri yang tinggi, prestatif, dan bijak dalam mengambil keputusan.

May 10, 2007

WO

Filed under: Annisa

Info buat yang lagi nyari WO (Wedding Organizer)

1. El farah Wedding Muslim Package

    Jl Antapani 3 No 26 Antapani telp 0227232924 atau 0818421236

2. Lita Islamic Wedding Organizer

Jl Purwakarta IX No 11 Antapani Bandung

022-70010410

   cp : Tina 02270745751

semoga bermanfaat… :)
 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M