Cerpen Gumilar Hidayat S.Pd
Cicit burung terdengar riang di atap rumah, menyambut anak-anak matahari yang mulai menampakkan diri di balik ibu awan. Kokok tuan ayam terdengar menggema gagah sekali dan suara itu muncul di balik telinga. Kokok tuan ayam itu sebagai doa, untuk memulai hari dengan sebuah kekuatan dalam din. Sisa angin malam yang terlambat pulang masih terasa mengecup semua pori tubuh, sehingga menjadikan mereka tampak nyata. Titik-titik lampu di atap rumah satu per satu mulai redup dan kemudian tertidur lelap, untuk kembali hidup saat kegelapan menyergap. Setetes embun mengajak kawan-kawannya untuk datang, memandikan rerumputan yang tidak bergoyang tetapi meliuk-liukan tubuhnya, juga memberikan minum kepada helaian daun dan patahan ranting yang masih setia pada induk pohonnya. Ratu penguasa kesegaran menari-nari di tengah pengawal udara, menyebarkan kesegaran di seluruh sudut dunia. Sisa cord jangkrik masih terdengar, mereka belum mau tidur, mereka ingin menikmati indahnya dunia, saat terbangun di awal hari. Dan katak pejantan sudah berhenti memanggil-manggil betina mereka, kini mereka berlarian beradu lompat satu sama lain. Riak air sungai tampak gembira melihat bebatuan menjelma kembali menjadi wujudnya sendiri, setelah semalaman bebatuan itu hanya nampak seperti bayangan hitam, yang mendengkur di tengah sungai. Dan kelopak bunga sudah mulai membukakan mata, mengeluarkan sari yang mereka punya, karena sesaat lagi pemilik sayap-sayap indah akan tandang ke rumahnya. Ibu-ibu awan tampak enggan pulang, mereka menyisakan selembar semburat di dada-dadanya. Dan pangeran angin malam sudah pulang ke peraduan kegelapan karena anak-anak pagi sedang asyik-asyiknya menumpahkan semua sinar hangat yang dimilikinya. Cit… cit… cit… dengkuran burung hantu berubah menjadi orkestra cicit burung pipit yang berzikir dan bermain bersama di atas genting.membuat tikus-tikus tertidur dan cecak-cecak terlelap, tetapi membangunkan sekumpulan ibu-ibu sapi untuk siap mensedekahkan susu yang ada di perutnya.
”Oh, seperti itukah pagi hari itu Tuhan?”
Pagi hari yang Kau ciptakan bersama langit dan bumi hanya dalam enam masa. Pagi hari yang datang silih berganti dengan siang, yang memberikan kehangatan dan malam yang memberikan kedamaian. Sungguh segala puji bagi Engkau Tuhan yang telah menciptakan dan mengatur segalanya. Tanpa ada keluhan dan rintangan. Tuhan… hadirkan pagi itu kembali esok hari.
Dan aku berharap aku dapat menemukan pagi hari seperti yang diceritakanMU. Tapi ijinkan aku berlari bersama para katak itu tanpa penyangga tubuhku yang melilit semua urat di tubuhku. Ijinkan aku memandikan bebatuan dengan riak air yang turun dari 7 lapis langit ciptaaanMu sehingga dengan air itu Engkau hidupkan bumi beserta isinya. Aku ingin memandikan bebatuan itu tanpa rasa sakit di kepala ini. Aku juga ingin melihat tamu nona-nona bunga yang kata mereka memiliki sayap-sayap indah. Oh ya Tuhan seperti apa lebah-lebah itu? Yang engkau perintahkan untuk membuat sarang di bukit-bukit dan dahan pohon. Oh ya Tuhan satu lagi aku sangat penasaran. Secantik apa ibu-ibu sapi yang di perutnya Engkau simpankan susu yang bersih yang selalu kuminum tiap pagi. Aku penasaran sekali Tuhan, aku ingin melihat mereka semua, tetapi semuanya ingin aku lihat tanpa kabut dan titik putih yang melingkar di mataku…,sehingga menutup arah pandang retinaku. Satu lagi Tuhan.. aku ingin mendengar cord burung pipit yang berzikir di atap rumah sebelum burung-burung itu Engkau terbangkan di angkasa dengan mudahnya.Dan aku juga ingin mendengar gagahnya suara tuan ayam. Dan semuanya ingin kudengar tanpa adanya lilitan kabel di telingaku. Oh iya Tuhan… Boleh Kan aku merasakan kecupan dari sang ratu kesegaran? Tapi Kau harus mengijinkanku melepaskan kain tebal yang menutupi wujudku ini, karena dengan begitu, aku bisa bebas merasakannya.
Maaf ya Tuhan aku banyak permintaan. Aku tahu Kau tak pernah keberatan akan semua yang kupinta. karena kau yakin kau mendangar semua permintaanku dan aku sangat yakin Kau akan mengabulkannya. Karena Engkau Raja Maha Kaya yang sanggup menjadikan segalanya jadi nyata. Karena aku tahu, pada setiap sekali seruanku, maka Engkau akan menjawabnya dengan seratus kali jawaban. Engkau kan pernah bilang ”HambaKu, Aku di sini. Mintalah. Karena aku teramat malu meninggalkan kedua belah tanganmu yang terbuka, meminta kepadaku.” Tapi kalau Engkau tidak mengizinkannya, ya tidak apa-apa Tuhan .Karena aku tahu Kau tidak ingin meliahtku sakit, karena aku sangat tahu, Kau menciptakan tubuh ini dengan anugerahMu dan bukan dengan main-main. Aku tahu Kau sangat sayang pada diriku ini. Aku rela tidak dapat melihat dan mendengar indahnya pagi hari yang diceritakanMu. Aku rela Tuhan, karena penglihatan dan pendengaran yang kau berikan padaku, telah Kau ambil kembali dan itu bukan karena virus yang menyerang darahku, sehingga tuan-tuan dokter harus menyuntikkan jarum-jarum tajamnya pada tubuhku dan mengeluarkan darah merahku untuk dicucinya. Aku yakin virus-virus yang bersemayam dalam darahku sedang menjalankan amanahMu. Dia juga kan makhluk yang taat dan selalu bertawadhu dalam melaksanakan perintahMu. Aku jadi iri Tuhan. Aku ingin seperti virus itu, yang sangat taat kepadaMu. Tapi hilangnya penglihatan dan pendengaranku bukan karena virus taat itu tapi karena Engkau mau mengambilnya kembali. Dan aku rela Tuhanku karena penglihatan dan pendengaran itu kan milikMu. Tapi kumohon Tuhanku jangan Kau ambil penglihatan, pendengaran dan hati ini karena kutermasuk orang-orang yang berpaling dariMu. Tetapi aku yakin semuanya adalah ujian dariMu, yang Kau berikan kepadaku dan aku sangat yakin aku bisa melaluinya, karena Engkau tidak akan memberikan beban itu kalau aku tidak bisa melaluinya. Aku hanya bisa berdoa kepadamu Tuhan, jadikan kau orang yang pandai bersabar dengan semua kekuranganku, jadikan aku orang yang pandai bersyukur atas pendengaran, penglihatan dan hati yang Engkau berikan padaku, karena duah seharunya begitu kan Tuhan. Dan aku berharap kesabaran dan syukurku dapat mengundangMu sehingga aku dapat memperoleh AdnMu. Yaitu tempat di mana ku dapat menclupkan tanganku di atas air yang mengalir di sungai-sungai indah, sehingga air suci itu membasahi gelang-gelang emas yang bertaburan mutiara indah yang menghiasi tangan ini. Sekali lagi semua yang ada dalam diriku boleh Engkau ambil Tuhan. Jangankan retina dan rumah siput yang ada dalam tubuhku yang mau Kau ambil, jiwa, raga, nyawa, dan ruhku boleh Engkau ambil Tuhan. Karena semua itu kan milikMu. Asalkan semua itu Engkau ambil saatpercikan suci air wudhu menyelimuti ragaku, saat alunan dzikr menghiasi bibirku sehingga menentramkan hatiku. Saat mukena putih yang disulam ibuku, menemani sholat-sholat di tengah malamku. Tengah malam yang selalu dihiasi kekhusyu’an untu melantunkan doa bagi bunda dan ayahandaku. Sehingga doa yang terlahir dari kekhusu’an itu mengundang jentik air mata, menerobos mata butaku dan saat hati ini benar-benar ridho atas semua pemberianMu, ketika cinta dan kerinduan yang ku punya untukMu benar-benar menyelimuti jiwaku. Sehingga aku bisa berjumpa denganMu ditemani husnul khatimahMu.
Sekali lagi aku rela tidak dapat melihat dan mendengar indahnya pagi karena Engkau selalu menceritakan setiap hari lewat kitab bertuliskan huruf indah tetapi mampu menggoncangkan gunung dan membelah bumi. Kitab tersuci yang Engkau turunkan ada kekasihMu yang menjadi rasul pujaanku, sang Muhammad manusia yang menjadi suri tauladan seluruh umat.
Ceritakan setiap hari… ya Tuhanku, Rab tercintaku. Mau kan Tuhan…?
Tuhan …
Tuhan … sepertinya ada yang salah dengan mataku!
Aku melihat barisan rapi di depanku. Mereka sekumpulan makhluk yang tiada kukenal…
Mereka seperti terbuat dari kaca, dan oh Tuhan mereka bersayap…! indah sekali … oh… Subhanallah…
Ada yang memiliki satu sayap, dua sayap, tiga sayap, empat sayap, bahkan ada yang memiliki beratus dan beribu sayap. Aku tidak dapat menghitungnya Tuhan! Indah sekali sayap mereka Tuhan. Ada yang being, ada yang berwarna keemasan, keperakkan. Oh ada juga yang bertaburan pennata dengan seribu warna.
Tuhan, siapa mereka?
Apakah mereka yang mengunjungi bunga-bunga itu?
Oh Tuhan ada apa dengan telingaku? aku mendengar suara nyanyian… merdu sekali, tapi … itu bukan nyanyian Tuhan, itu alunan ayat QuranMu. Subhanallah. Siapa yang melantunkan ayat suci itu Tuhan?
Salamun’alaikum… salamun’alaikum… salamun’alaikum…
Oh alunan itu berasal dari makhluk bersayap itu. Mereka kini terbang mengelilingiku. Mereka membawa pakaian sutera berwarna hijau… oh… sutera hijau itu dipakaikannya kepadaku. Halus sekali sutera ini Tuhan. Siapa mereka Tuhan?
Oh… Tuhan ke mana rangka besi yang menopang tubuhku? Aku bisa ambruk tanpa alat itu. Tuhan aku tidak mau tubuhku rusak, karena itu titipan dariMu. Oh… aku bisa melompat, aku bisa berlari bersama katak-katak itu, aku diajaknya menyusuri riak air, agar aku bisa membantunya memandikan bebatuan yang tertutup lumut-lumut hijau. Tuhan… makhluk bersayap itu mendekatiku, mereka tersenyum kepadaku. Kulihat jelas sayap indahnya. Aku merabanya Tuhan.Oh.. dia memelukku dan menerbangkanku. Aku punya sayap Tuhan. Aku terbang bersama mereka, bersama burung-burung itu, bersama katak-katak itu. Aku terbang Tuhan. Aku terbang…
Tetapi… siapa itu Tuhan?
Siapa yang terbaring lemah di kasur itu?
Kenapa tubuhnya rapuh sekali Tuhan…?
Siapa itu? dia tertidur Tuhan, tetapi dia tersenyum dan senyumnya indah sekali, sehingga membuyarkan kepucatan di wajahnya. Tapi… kenapa orang-orang yang mengelilinginya menangis? Apakah mereka tidak senang melihat senyum gadis itu?
Tuhan sepertinya aku kenal siapa gadis berkerudung putih itu… oh … oh… itu aku, itu aku Tuhan!
Tunggu Tuhan aku harus mengajaknya pergi bersamaku, kan kuberikan satu sayap untuknya.
Oh tidak Tuhan, ada orang yang menyembunyikan senyum itu. Dia menutup wajahku dengan kain putih. Dia ayahku… dia abiku…
Abi… kenapa abi menutup wajahku? aku ingin melihat senyumnya.
Kenapa abi menangis Tuhan. Kenapa dia berkata Innalillahi wa inna ilahi rajiun?