AHSANUL KALAM

September 29, 2008

Pasrah

Ya Allah.. dipenghujung Ramadhan ini yang aku rasakan adalah pasrah….

Pada suatu malam aku pernah menulis di  buku harianku sebuah permintaan pada Allah. Ya Allah… pahamkanlah pada kami bahwa kami semua akan kembali padaMu. Rupanya Allah menjawab doaku dengan instan. Esok malamnya, tepat di malam 27 Ramadhan aku mendapat pesan singkat dari teman kantorku. Isinya berita duka bahwa Bu Evi, sekretaris senior manager di kantor meninggal dunia di RSHS.

Rabbana…

Ya Rab.. Engkau lah sebaik-baik murabbi yang memberikan pelajaran pada para binaanNya.

Pada hari ke 27… aku melayat ke rumah Bu Evi. Aku melihat jasadnya terbujur kaku. Aduhai .. minggu lalu aku masih melihat beliau sibuk bekerja di kantor. Kami pulang bersama naik mobil Pak Agus. Masih kuingat senyum bahagianya ketika selesai di operasi pada bulan Juli. Sinar matanya menampakkan optimisme yang begitu besar bahwa kesehatannya akan pulih kembali. Ya Allah… siapa yang menyangka beliau pergi begitu cepat. Di usianya yang ke 37! belum genap 40. Rabbana… Kini beliau telah menutup matanya untuk selamanya. Tak ada lagi sinar mata optimisme. Pada suatu hari jumat kami pernah sama-sama dengan karyawati lainnya sibuk di pantry menyiapkan makanan untuk acara munggahan di kantor.

Sedikit menyesal… kemarin sorenya sebenarnya aku sudah berniat menjenguk Bu Evi di rumah sakit. tapi.. berhubung pekerjaan kantor selesai setelah lewat jam pulang dan mengejar maghrib di Masjid Habiburrahman kuurungkan niatku. Aku berniat pada tanggal 27 itulah aku membesuknya di rumah sakit. Ya Rahmaaan… tak pernah kusangka kau benar-benar menjenguknya, bukan di rumah sakit, tapi di rumahnya. Tapi tak kutemukan sinar mata bahagianya. Yang aku temukan mata yang tertutup rapat dan wajah yang pucat.

Alangkah bahagianya… beliau telah selangkah lebih dulu dari kita. Jalanya tinggal sedikit lagi menuju pertemuan denganNya.

Allhummaghfirlaha, warhamha, wa afiha, wa’fu anha…

September 26, 2008

EID MUBARAK

Filed under: Warna Ramadhan

 SELAMAT IDUL FITRI ….

TAQABBALALLHU MINNA WA MINKUM

 

September 22, 2008

Filed under: Warna Ramadhan

Ramadhan sekarang teh meni banyak ujiannya.

Ya Allah… mugia sim kuring dikuatkeun iman sinareng dipaparin hate anu istiqomah dugi ka akhir hayat. Amin…

 

 

September 4, 2008

Happy Ramadhan

Filed under: Warna Ramadhan

disponsori oleh : telkom flexi, telkom speedy, telkom vision, dan semua produk telkom lainnya emoticon

October 23, 2007

Eid Mubarak

Filed under: Warna Ramadhan

Makasih buat semua teman yang sudah kirim SMS idul fitri (yang tidak dapat disebutkan satu per satu).

Makasih juga buat semua teman yang saya kenal. Semoga Allah senantiasa menyatukan kita dalam ikatan persaudaraan karenaNya… amin 

September 30, 2007

BERLALU

Filed under: Warna Ramadhan

Menjelang detik-detik 10 hari terakhir Ramadhan…

September 21, 2007

PAGI HARI BERSAMA TUHAN

Filed under: Warna Ramadhan

Cerpen Gumilar Hidayat S.Pd

Cicit burung terdengar riang di atap rumah, menyambut anak-anak matahari yang mulai menampakkan diri di balik ibu awan. Kokok tuan ayam terdengar menggema gagah sekali dan suara itu muncul di balik telinga. Kokok tuan  ayam itu sebagai doa, untuk memulai hari dengan sebuah kekuatan dalam din. Sisa angin malam yang terlambat pulang masih terasa mengecup semua pori tubuh, sehingga menjadikan mereka tampak nyata. Titik-titik lampu di atap rumah satu per satu mulai redup dan kemudian tertidur lelap, untuk kembali hidup saat kegelapan menyergap. Setetes embun mengajak kawan-kawannya untuk datang, memandikan rerumputan yang tidak bergoyang tetapi meliuk-liukan tubuhnya, juga memberikan minum kepada helaian daun dan patahan ranting yang masih setia pada induk pohonnya. Ratu penguasa kesegaran menari-nari di tengah pengawal udara, menyebarkan kesegaran di seluruh sudut dunia. Sisa cord jangkrik masih terdengar, mereka belum mau tidur, mereka ingin menikmati indahnya dunia, saat terbangun di awal hari. Dan katak pejantan sudah berhenti memanggil-manggil betina mereka, kini mereka berlarian beradu lompat satu sama lain. Riak air sungai tampak gembira melihat bebatuan menjelma kembali menjadi wujudnya sendiri, setelah semalaman bebatuan itu hanya nampak seperti bayangan hitam, yang mendengkur di tengah sungai. Dan kelopak bunga sudah mulai membukakan mata, mengeluarkan sari yang mereka punya, karena sesaat lagi pemilik sayap-sayap indah akan tandang ke rumahnya. Ibu-ibu awan tampak enggan pulang, mereka menyisakan selembar semburat di dada-dadanya. Dan pangeran angin malam sudah pulang ke peraduan kegelapan karena anak-anak pagi sedang asyik-asyiknya menumpahkan semua sinar hangat yang dimilikinya. Cit… cit… cit… dengkuran burung hantu berubah menjadi orkestra cicit burung pipit yang berzikir dan bermain bersama di atas genting.membuat tikus-tikus tertidur dan cecak-cecak terlelap, tetapi membangunkan sekumpulan ibu-ibu sapi untuk siap mensedekahkan susu yang ada di perutnya.

”Oh, seperti itukah pagi hari itu Tuhan?”
Pagi hari yang Kau ciptakan bersama langit dan bumi hanya dalam enam masa. Pagi hari yang datang silih berganti dengan siang, yang memberikan kehangatan dan malam yang memberikan kedamaian. Sungguh segala puji bagi Engkau Tuhan yang telah menciptakan dan mengatur segalanya. Tanpa ada keluhan dan rintangan. Tuhan… hadirkan pagi itu kembali esok hari.
Dan aku berharap aku dapat menemukan pagi hari seperti yang diceritakanMU. Tapi ijinkan aku berlari bersama para katak itu tanpa penyangga tubuhku yang melilit semua urat di tubuhku. Ijinkan aku memandikan bebatuan dengan riak air yang turun dari 7 lapis langit ciptaaanMu sehingga dengan air itu Engkau hidupkan bumi beserta isinya. Aku ingin memandikan bebatuan itu tanpa rasa sakit di kepala ini. Aku juga ingin melihat tamu nona-nona bunga yang kata mereka memiliki sayap-sayap indah. Oh ya Tuhan seperti apa lebah-lebah itu? Yang engkau perintahkan untuk membuat sarang di bukit-bukit dan dahan pohon. Oh ya Tuhan satu lagi aku sangat penasaran. Secantik apa ibu-ibu sapi yang di perutnya Engkau simpankan susu yang bersih yang selalu kuminum tiap pagi. Aku penasaran sekali Tuhan, aku ingin melihat mereka semua, tetapi semuanya ingin aku lihat tanpa kabut dan titik putih yang melingkar di mataku…,sehingga menutup arah pandang retinaku. Satu lagi Tuhan.. aku ingin mendengar cord burung pipit yang berzikir di atap rumah sebelum burung-burung itu Engkau terbangkan di angkasa dengan mudahnya.Dan aku juga ingin mendengar gagahnya suara tuan ayam. Dan semuanya ingin kudengar tanpa adanya lilitan kabel di telingaku. Oh iya Tuhan… Boleh Kan aku merasakan kecupan dari sang ratu kesegaran? Tapi Kau harus mengijinkanku melepaskan kain tebal yang menutupi wujudku ini, karena dengan begitu, aku bisa bebas merasakannya.

Maaf ya Tuhan aku banyak permintaan. Aku tahu Kau tak pernah keberatan akan semua yang kupinta. karena kau yakin kau mendangar semua permintaanku dan aku sangat yakin Kau akan mengabulkannya. Karena Engkau Raja Maha Kaya yang sanggup menjadikan segalanya jadi nyata. Karena aku tahu, pada setiap sekali seruanku, maka Engkau akan menjawabnya dengan seratus kali jawaban. Engkau kan pernah bilang ”HambaKu, Aku di sini. Mintalah. Karena aku teramat malu meninggalkan kedua belah tanganmu yang terbuka, meminta kepadaku.” Tapi kalau Engkau tidak mengizinkannya, ya tidak apa-apa Tuhan .Karena aku tahu Kau tidak ingin meliahtku sakit, karena aku sangat tahu, Kau menciptakan tubuh ini dengan anugerahMu dan bukan dengan main-main. Aku tahu Kau sangat sayang pada diriku ini. Aku rela tidak dapat melihat dan mendengar indahnya pagi hari yang diceritakanMu. Aku rela Tuhan, karena penglihatan dan pendengaran yang kau berikan padaku, telah Kau ambil kembali dan itu bukan karena virus yang menyerang darahku, sehingga tuan-tuan dokter harus menyuntikkan jarum-jarum tajamnya pada tubuhku dan mengeluarkan darah merahku untuk dicucinya. Aku yakin virus-virus yang bersemayam dalam darahku sedang menjalankan amanahMu. Dia juga kan makhluk yang taat dan selalu bertawadhu dalam melaksanakan perintahMu. Aku jadi iri Tuhan. Aku ingin seperti virus itu, yang sangat taat kepadaMu. Tapi hilangnya penglihatan dan pendengaranku bukan karena virus taat itu tapi karena Engkau mau mengambilnya kembali. Dan aku rela Tuhanku karena penglihatan dan pendengaran itu kan milikMu. Tapi kumohon Tuhanku jangan Kau ambil penglihatan, pendengaran dan hati ini karena kutermasuk orang-orang yang berpaling dariMu. Tetapi aku yakin semuanya  adalah ujian dariMu, yang Kau berikan kepadaku dan aku sangat yakin aku bisa melaluinya, karena Engkau tidak akan memberikan beban itu kalau aku tidak bisa melaluinya. Aku hanya bisa berdoa kepadamu Tuhan, jadikan kau orang yang pandai bersabar dengan semua kekuranganku, jadikan aku orang yang pandai bersyukur atas pendengaran, penglihatan dan hati yang Engkau berikan padaku, karena duah seharunya begitu kan Tuhan. Dan aku berharap kesabaran dan syukurku dapat mengundangMu sehingga aku dapat memperoleh AdnMu. Yaitu tempat di mana ku dapat menclupkan tanganku di atas air yang mengalir di sungai-sungai indah, sehingga air suci itu membasahi gelang-gelang emas yang bertaburan mutiara indah yang menghiasi tangan ini. Sekali lagi semua yang ada dalam diriku boleh Engkau ambil Tuhan. Jangankan retina dan rumah siput yang ada dalam tubuhku yang mau Kau ambil, jiwa, raga, nyawa, dan ruhku boleh Engkau ambil Tuhan. Karena semua itu kan milikMu. Asalkan semua itu Engkau ambil saatpercikan suci air wudhu menyelimuti ragaku, saat alunan dzikr menghiasi bibirku sehingga menentramkan hatiku. Saat mukena putih yang disulam ibuku, menemani sholat-sholat di tengah malamku. Tengah malam yang selalu dihiasi kekhusyu’an untu melantunkan doa bagi bunda dan ayahandaku. Sehingga doa yang terlahir dari kekhusu’an itu mengundang jentik air mata, menerobos mata butaku dan saat hati ini benar-benar ridho atas semua pemberianMu, ketika cinta dan kerinduan yang ku punya untukMu benar-benar menyelimuti jiwaku. Sehingga aku bisa berjumpa denganMu ditemani husnul khatimahMu.

Sekali lagi aku rela tidak dapat melihat dan mendengar indahnya pagi karena Engkau selalu menceritakan setiap hari lewat kitab bertuliskan huruf indah tetapi mampu menggoncangkan gunung dan membelah bumi. Kitab tersuci yang Engkau turunkan ada kekasihMu yang menjadi rasul pujaanku, sang Muhammad manusia yang menjadi suri tauladan seluruh umat.
Ceritakan setiap hari… ya Tuhanku, Rab tercintaku. Mau kan Tuhan…?

Tuhan …
Tuhan … sepertinya ada yang salah dengan mataku!
Aku melihat barisan rapi di depanku. Mereka sekumpulan makhluk yang tiada kukenal…
Mereka seperti terbuat dari kaca, dan oh Tuhan mereka bersayap…! indah sekali … oh… Subhanallah…
Ada yang memiliki satu sayap, dua sayap, tiga sayap, empat sayap, bahkan ada yang memiliki beratus dan beribu sayap. Aku tidak dapat menghitungnya Tuhan! Indah sekali sayap mereka Tuhan. Ada yang being, ada yang berwarna keemasan, keperakkan. Oh ada juga yang bertaburan pennata dengan seribu warna.

Tuhan, siapa mereka?
Apakah mereka yang mengunjungi bunga-bunga itu?
Oh Tuhan ada apa dengan telingaku? aku mendengar suara nyanyian… merdu sekali, tapi … itu bukan nyanyian Tuhan, itu alunan ayat QuranMu. Subhanallah. Siapa yang melantunkan ayat suci itu Tuhan?
Salamun’alaikum… salamun’alaikum… salamun’alaikum…
Oh alunan itu berasal dari makhluk bersayap itu. Mereka kini terbang mengelilingiku. Mereka membawa pakaian sutera berwarna hijau… oh… sutera hijau itu dipakaikannya kepadaku. Halus sekali sutera ini Tuhan. Siapa mereka Tuhan?

Oh… Tuhan ke mana rangka besi yang menopang tubuhku? Aku bisa ambruk tanpa alat itu. Tuhan aku tidak mau tubuhku rusak, karena itu titipan dariMu. Oh… aku bisa melompat, aku bisa berlari bersama katak-katak itu, aku diajaknya menyusuri riak air, agar aku bisa membantunya memandikan bebatuan yang tertutup lumut-lumut hijau. Tuhan… makhluk bersayap itu mendekatiku, mereka tersenyum kepadaku. Kulihat jelas sayap indahnya. Aku merabanya Tuhan.Oh.. dia memelukku dan menerbangkanku. Aku punya sayap Tuhan. Aku terbang bersama mereka, bersama burung-burung itu, bersama katak-katak itu. Aku terbang Tuhan. Aku terbang…

Tetapi… siapa itu Tuhan?
Siapa yang terbaring lemah di kasur itu?
Kenapa tubuhnya rapuh sekali Tuhan…?
Siapa itu? dia tertidur Tuhan, tetapi dia tersenyum dan senyumnya indah sekali, sehingga membuyarkan kepucatan di wajahnya. Tapi… kenapa orang-orang yang mengelilinginya menangis? Apakah mereka tidak senang melihat senyum gadis itu?
Tuhan sepertinya aku kenal siapa gadis berkerudung putih itu… oh … oh… itu aku, itu aku Tuhan!
Tunggu Tuhan aku harus mengajaknya pergi bersamaku, kan kuberikan satu sayap untuknya.
Oh tidak Tuhan, ada orang yang menyembunyikan senyum itu. Dia menutup wajahku dengan kain putih. Dia ayahku… dia abiku…
Abi… kenapa abi menutup wajahku? aku ingin melihat senyumnya.
Kenapa abi menangis Tuhan. Kenapa dia berkata Innalillahi wa inna ilahi rajiun?

Now I know what I’m Lookin’ For

Filed under: Warna Ramadhan

Apa sih yang mu dicari? Kebahagiaan?

Pertanyaan ini pernah muncul dari lisan sepupuku. Sebuah pertanyaan retoris tepatnya.

Bukankah barokah Allah yang kita harapkan?

Bahagia belum tentu barokah, tapi kalau barokah tentu bahagia. Begitulah sepupuku membagi ilmunya padaku. Usianya 32 pada saat itu, dua tahun yang lalu. Dia telah melewati riak-riak kehidupan yang belum pernah aku alami. Dia begitu bijak.

Dua tahun berlalu… kata-kata ini seolah tidak begitu berharga untukku, hingga suatu hari aku benar-benar meyakini kebenaran kata-kata ini.

Hari itu, aku masih dibayangi rasa bersalah, berdosa atas sebuah keputusan yang kuambil. Demi sebuah tugas, Aku telah melanggar sebuah prinsip yang aku pegang teguh selama ini. Aku berpikir bahwa ini adalah kondisi darurat yang membuatku boleh melanggar prinsipku. So’ berijtihad. Pada hari itu juga aku merasa kerjaku benar-benar tidak optimal sama sekali. Aku merasa bahwa definisi kondisi darurat yang kubuat adalah sebuah pembenaran belaka. Faktanya aku tetap tidak bisa profesional! Pada hari itulah aku mulai berpikir dan mengevaluasi diri… There’s something wrong with me!

Aku seperti dirundung dua kerugian. Kerugian telah menyakiti diriku dengan pelanggaran yang kubuat sendiri dan kerugian atas kerja dengan hasil minimalis (kasarnya: gak ada hasilnya sama sekali). Asa katurug katutuh (ceuk bahasa Prancis na mah).

Aku mulai teringat momen-momen dalam sejarah hidupku. Aku pernah merasa berprestasi dan pernah merasa kurang berprestasi. Rupanya, momen-momen preatasi itu terselip diantara kesibukan aktivitas dawah yang padat dan penuh tantangan. Pada saat itu juga merasa begitu dekat dengan Allah SWT. Sebaliknya momen-momen kurang berprestasi itu terlahir saat aku begitu jauh dari Allah SWT.

Aku pun teringat pada beberapa ikhwah. Mereka adalah orang mendapat keberuntungan dan telah membuktikan janji Allah dala surat Muhammad ayat 6 ”Barangsiapa diantara kalian menolong agama Allah, Kami akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian”

Sebut saja Akh A. IP beliau tidak terlalu bagus, bahkan sempat kondisinya sempat mengkhawatirkan. Aku pun sempat cemas juga akan masa depan Akh A. Aktivitasnya yang begitu padat membuat beliau kurang memperhatikan akademis. Ternyata aku salah, sesaat sebelum beliau lulus beliau sudah diterima kerja di sebuah perusahaan yang bonafid dan tentunya sesuai dengan bidang ilmu yang beliau geluti. Lebih luar biasanya lagi… beliau menyumbangkan sekian juta untuk membiayai daurah (baca: training) untuk rohis SMU nya. Aku bener-bener dibuat tercengang. Betapa Allah memberikan kesuksesan pada orang-orang yang teguh di jalanNya.

Akh B dan Akh C. Kondisi akademisnya jauh lebih mencemaskan dari pada akh I. Begitu banyak orang yang mengkhawatirkan mereka. Gak kebayang kalau mereka DO… mau dikemanakan wajah da’wah ini? Masalahnya wajah mereka berdua sudah identik dengan wajah da’wah kampus. Ternyata aku salah untuk kedua kalinya… posisi mereka bahkan jauh lebih aman daripada posisiku saat ini. Mereka mendapat beasiswa master plus uang saku dan uang buku. Allah memang tidak pernah salah menurunkan rizki bagi hambaNya. Teringat pada QS Ath-thalaq ”Barangsiapa bertaqwa pada Allah niscaya Kami akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”

Perenungan ini membawaku pada sebuah titik… pasrah… dan kini aku tahu apa yang aku cari dalam aktivitas yang kujalani: barokah dari Allah SWT.

Berjuta detik telah kulalui tanpa mengharapkan barokahNya. Inilah yang membuatku sombong dan melupakan bahwa ada tanganNya yang akan menolong kita, bahwa ada tangannya yang akan menghempaskan kita saat kita lalai.

Memang tidak mudah untuk teguh dan tetap berada pada titik ini. Akan selalu ada angin yang menyapu untuk menjauh dari titik ini. Akan selalu ada benturan yang melemparkan diri ini dari pengharapan akan barokahNya.

Tapi Allah tidak memberikan kemenangan bagi manusia yang suci bukan? Allah hanya memberikan kemenagan bagi orang-orang yang menyucikan dirinya (QS Asy-Syams dan QS Al ’Ala). Saat kita terhempas dari orbit ketaqwaan, jadilah orang yang menyucikan diri dengan segera kembali ke orbit taqwa.

September 15, 2007

Catatan Pagi ini …

Filed under: Warna Ramadhan

Pagi ini, bad’a shalat subuh…  mengaji bersama anak-anak. Senangnya… mereka begitu bersemangat. Jumlahnya tidak banyak, 6 orang. Semuanya perempuan… Rai, Sely dan Nisa orang 7. Nataya dan Rani kelas 5.Jezzi kelas 8. Anak laki-lakinya ,lebih senang bermain di lapangan dan ngumpul di saung abah Juta. Di sini belum ada ikhwan bisa diandalkan :( .

Kami belajar tahsin. Mulai dari surat An-Naba 1-5. Aku gak ahli banget sih soal tahsin. Gak punya sertifikasi untuk mengajar pula. Berbekal ilmu dari Maqdis, Mata dan STQ serta keberanian dan rasa cintaku pada adik-adik kecilku ini aku bagi ilmu tahsin yang kumiliki :)
Mereka senang sekali… terutama pada bagian makharijul huruf. Belajar mengucapkan huruf kha, ain, sa, sya, sha, tsa, fa… membuat kami riang gembira. Apalagi ketika belajar mengucapkan huruf dengan lagu khas tahsin: fa fi fu baf fu fan fa ni faf na mi nal muf ni ma fi fan fa ni fa … Lucu juga… gak ngebosenin lah minimal.

Sehabis mengaji mereka mulai ngajak ngobrol… mereka bertanya tentang identitas diriku. Rumah di mana, ulang tahunnya kapan, sekolahnya di mana, belajar tahsin di mana dan seterusnya… Mereka juga bercerita tentang pengalaman mereka…  Ternyata Nataya adalah presenter acara anak-anak di MQ TV. Hebat ya… 

Mereka tuh lucu banget. Polos-polos. Rasanya waktu aku seumur mereka aku gak selucu itu. Kelas 1 SMP udah mikirin tentang UFO, alien, luar angkasa … film independence day. ah… ada-ada aja ya =) memang dulu aku sempat diajarin ngaji sama kakak-kakak dari Hikmatul Iman dan mereka cerita yang begituan. Sedikit ter-Brain Wash

Ketika aku pindah ke antapani tahun 1990, masjid ini belum ada. Yang ada adalah pengajian anak-anak yang dimotori oleh A Dodi dan Teh Wati. Pengajian ini dinamakan pengajian Nurul Iman. Beberapa waktu kemudian dibangunlah sebuah masjid untuk lingkungan RW. Masjid ini akhirnya dinamakan masjid Nurul Iman. Dulu aku paling males buat ngaji. Kalau disamper pasti aja bikin alesan untuk gak datang. Apalagi waktu zaman A Iyus… Aa-nya galak banget. Aku gak ingat sejak kapan aku jadi rajin ngaji :D
Ada banyak guru yang silih berganti membina anak-anak di masjid ini Teh Ida, Teh Heni, A Galuh, A Anis, A Agung, sampai K harun, K ade, K Asep dan A Aris. 4 orang terakhir ini adalah ikhwan-ikhwan jebolan pesantren pajagalan. Yang lainnya adalah ‘manusia biasa’ seperti aku yang gak punya background pesantren.

Aku ingat, di masjid ini aku dibesarkan. Dari TK sampai sekarang. Ikut pesantren kilat, pengajian maghrib-isya, dimarahi sama pak Maskam gara-gara lari-lari dimasjid, bersih-bersih masjid, membantu panitia kurban menyebarkan daging, mengadakan pesantren kilat, ngajar ngaji, sholat subuh, sholat tarawih… masjid yang penuh kenangan :) Mungkin kalau aku tidak pernah berinteraksi dengan masjid ini aku tidak pernah jatuh cinta pada tarbiyah dan da’wah.

Ya Allah… rahamtilah orang-orang yang telah membuka jalan hidayah untukku. Jadikan aku orang yang membalas budi mereka dengan membuka jalan hidayah bagi anak-anak dan remaja di masjid ini… Engkaulah yang menggenggam setiap hati hambaMu….

Hari ini…

Filed under: Warna Ramadhan

Hari ini adalah hari ini. Hari di mana aku masih bisa menghirup segarnya udara pagi… Alloh masih membuka mataku dan mengizinkan aku membaca firmanNya. Alloh masih memudahkan lisan ini untuk memurajaah ayat-ayatNya. Sebuah suasana yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Malam-malam yang indah bersama tarawih dan tausiyah. Mengaji bersama anak-anak dan remaja masjid. Tak pernah kusangka, anak-anak gaul itu mau ya…baca alquran bersama anak-anak kecil. Mereka juga mau ikut pengajian pekanan yang diadakan sie.diklat DKM. Luar biasa…Pulang tarawih acaranya tadarus keluarga… Sungguh mengharukan… Kami saling memperdengarkan bacaan alquran dan saling memperbaiki bacaaan. Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar 

 

Betapa indahnya cintaMu Ya Rabb

Pagi ini… pagi terakhirku bersama kelompok halaqohku…di rumah murabbiyahku… bertemu dengan anak-anaknya yang lucu. Selanjutkan aku akan bergabung dengan halaqoh pasca sarjana… Sedih sih. Di halaqoh ini aku bersama dengan orang-orang yang menurutku hebat dan layak dijadikan teladan.Aku banyak belajar dari teman-teman se-halaqoh. entah bersama siapa nanti aku di halaqoh pasca? tapi… aku bahagia… semoga ini menjadi momen yang membawa perubahan untuk umat ini. ada banyak harapan dan Alloh tak kan pernah menzhalimi hambaNya. amin…

Yang lebih membuat hari ini berkesan adalah Alloh mengizinkanku untuk melaksanakan rencanaku. Sederhana memang dan mungkin tidak ada artinya. Itu begitu sepele… Pagi ini aku menyiapkan beberpa bungkus kurma untuk teman-teman halaqohku. Aku sangat ingin mendapatkan pahala shaum berlipat dengan memberi makan orang yang shaum. Alhamdulillah… mereka menerima bingkisan kecilku dengan senang hati. Sayangnya… kurma-kurma itu masih tersisa, karena beberapa teman halaqoh sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing. Hmm… gak apa-apa, masih banyak orang shaum di dunia ini :)

Tepat ketika kami akan bubar… anak sulung bunda (baca: murabbiyahku) menangis. Dia begitu sedih karena sahabatnya tidak bisa terus bermain alias harus pulang. Serta merta aku memberikan bungkusan-bungkusan kurma itu pada anak sulung bunda.

"Ini buat teteh… tapi jangan nangis lagi ya :) " sambil kubelai rambutnya

Seketika  tangisnya terhenti… Alhamdulillah… bukan aku yang menghentikan tangisnya… tapi Sang Pemberi Rizki yang melakukannya.Betapa indahnya hari ini… alhamdulillah…

14 September 2007






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M